Senin, 15 Februari 2016

RANGKUMAN ILMU BUDAYA DASAR 7,8 dan 9



 RANGKUMAN ILMU BUDAYA DASAR

7. MANUSIA dan KEADILAN

A.    PENGERTIAN KEADILAN

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan tindakan manusia. Kelayakan adalah titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung itu menyangkut dua orang atau benda, bila kedua orang memiliki kesamaan dalam ukuran yang ditetapkan, maka masing masing orang harus memperoleh benda atauh hasil yang sama. Sedangkan jika hasilnya tidak sama, dapat dikatakan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.
Pendapat tentang Keadilan juga bermacam-macam yang disampaikan oleh beberapa tokoh. Menurut Plato Keadilan di proyeksikan pada diri manusia yang dapat mengendalikan diri menggunakan perasaan dan akal. Sedangkan menurut Socrates keadilan diproyeksikan pada pemerintahan, jika pemerintahan sudah dapat melaksanakan tugasnya makakeadilan akan tercipta, karena pemerintahan pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. KongHuCu berpendapat lain,Keadilan terjadi apabila anak menjadi anak orangtua sebagai orangtua yang masing-masing menjalankan kewajibannya, pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban atau dengan kata lain keadilan apabila setiap orang yang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama. Contoh jika seseorang karyawan menuntut kenaikan upah tanpa melihat kinerja nya hal cenderung dikatakan memeras.

B.     KEADILAN SOSIAL

Keadilan Sosial seperti yang terteera dalam pancasila sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bung Karno mengusulkan adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara, prinsip yang dijelaskan adalah “tidak ada kemiskinan di Indonesia merdeka” dengan kata lain nampak adanya pembaruan pengertian antara kesejahteraan dan keadilan.
            Bung Hatta dalam penguraiannya mengenai sila ke-5 seperti berikut “keadilan sosial adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur”. Selanjutnya diuraikan para pemimpin Indonesia yang menyusun UUD 45 percaya cita-cita keadilan didalam bidang ekonomi mencapai kemakmuran yang merata.
           
Asas yang menuju terciptanya keadilan sosial sebagai berikut: 1. Pemerataan kebutuhan pokok, 2. Pemerataan pendidikan dan pelayanan kesehatan, 3. Pemerataan pendapatan, 4. Pemerataan kesempatan kerja, 5. Pemerataan kesempatan berusaha, 6. Pemerataan partisipasi generasi muda,7. Pemerataan pembangunan, 8. Pemerataan memperoleh keadilan.

C.    BERBAGAI MACAM KEADILAN

1.      Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (The man behind the gun). Pendapat Plato disebut keadilan moral sedangkan menurut Sunoto menyebutnya keadilan legal.
2.      Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal yang sama diperlakukan secara sama, yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally).
3.      Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memilahara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.

D.    Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatan sesuai dengan kenyatan yang ada. Orang bodoh yang jujur lebih baik daripada orang pintar yang lancung. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya kesamaan hak serta takut akan kesalahan atau dosa.

E.     Kecurangan
Kecurangan identik dengan ketidak jujuran, kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan biasanya untuk memperoleh keuntungan namun tentu dengan cara yang tidak wajar. Kecurangan membuat orang menjadi tamak dan serakah.

F.      Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup, setiap orang menjaga agar namanya tetap baik. Seperti pribahasa lebih baik mati daripada malu ini membuktikan nama baik itu mahal harganya. Pada hakekatnya nama baik sesuai dengan kodrat manusia diantaranya: Manusia adalah makhluk moral dan ada aturan aturan yang harus d patuhi manusia untuk mewujudkan sebagai pelaku moral tersebut.

G.    Pembalasan
Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain.  Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan pembalasan yang baik sesuai dengan perbuatannya sedangkan bagi orang-orang yang mengingkari Tuhan akan diberikan balasan yang setimpal yaitu balasan di Neraka.

8. PANDANGAN HIDUP
A.    PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup dan bersifat kodrati, karena untuk menentukan masa depan orang itu sendiri. Dengan kata lain pandangan hidup bukan timbul dalam waktu yang singkat saja. Pandangan hidup banyak sekali macam dan ragamnya, tetapi dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri 3 macam:
1.      Pandangan hidup berasal dari agama
2.      Pandangan hidup berasal dari ideologi
3.      Pandangan hidup hasil renungan

B.     CITA-CITA

Cita-cita menurut definisi adalah keinginan, harapan, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup. tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita yang merupakan bagian atau salah satu unsur dari pandangan hidup manusia, yaitu sesuatu yang ingin digapai oleh manusia melalui usaha. Sesuatu bisa disebut dengan cita-cita apabila telah terjadi usaha untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap cita-cita itu.
3. Faktor yang menentukan dapat atau tidaknya seseorang mencapai cita – citanya antara lain :
- Manusia itu sendiri
- Kondisi yang dihadapi dalam rangka mencapai cita – cita tersebut,
- Seberapa tinggi cita – cita yang ingin dicapai.
2.Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapai tidaknya cita – citanya antara lain :
- Faktor yang menguntungkan, dan
- Faktor yang menghambat.

C.    KEBAJIKAN
Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral. Dia adalah seorang individu yang utuh, terdiri atas jiwa dan raga. Dia memiliki hati yang pada hakikatnya lagi, memihak pada kebenaran dan selalu mengeluarkan pendapat sendiri tentang pribadinya, perasaannya, cita-citanya, dan hal-hal lainnya. Dari yang dirasakan manusia tersebut, manusia cenderung lebih memihak pada kebaikan untuk dirinya sendiri. Inilah yang membuat sebagian manusia ‘terpilah’ menjadi manusia egois, yang seringkali seperti tidak mengenal kebajikan.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari 3 segi, yaitu :
a)      Manusia sebagai pribadi, yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati.
b)      Manusia sebagai anggota masyarakat atau makhluk sosial, manusia hidup bermasyarakat, saling membutuhkan, saling menolong, dan saling menghargai anggota masyarakat

D.    USAHA / PERJUANGAN

Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha / perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha / perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempurna. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia harus kerja keras.Kerja keras itu dapat dilakuan dengan otak / ilmu maupun dengan tenaga/ jasmani, atau kedua-duanya. Para ilmuwan lebih banyak bekerja keras dengan otak/ilmunya dari pada dengan jasmaninya. Sebaliknya para buruh, petani lebih banyak menggunakan jasmani dari pada otaknya.

Para tukang dan para ahli lebih banyak menggunakan kedua-duanya otak dan jasmani dari pada salah satunya. Para politikus lebih banyak kerja otak dari pada jasmani, sebaliknya prajurit lebih banyak kerja jasmani dari pada otak. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia miskin, melarat, dan berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya sendiri.karena itu tidak boleh bermalas-malas, bersatai-santai dalam hidup ini. Santai dan istirahat ada waktunya dan manusia mengatur waktunya itu. Dalam agamapun diperintahkan untuk kerja keras, sebagaimana hadist yang diucapkan Nabi Besar Muhammad S.A.W yang ditunjuk kepada para pengikutnya “Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati”.

E.     KEYAKINAN / KEPERCAYAAN

Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya, belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru. Menurut Prof.Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme dan aliran gabungan.


1.      Aliran Naturalisme

Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Bagi yang tidak percaya akan Tuhan, natur adalah yang tertinggi. Manusia sebagai makhluk tidak mampu menguasai alam ini, karena manusia itu lemah. Manusia hanya dapat berusaha/berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Karena itu manusia mengabdi pada Tuhan berdasarkan ajaran ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama itu ada dua macam yaitu:
a.       Ajaran agama dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan dan Nabi-nabi. Ajaran yang dogmatis bersifat mutlak.
b.      Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia sifatnya relatif (terbatas).

2.      Aliran Intelektualisme

Dasar aliran ini adalah logika/akal. Dengan akal manusia berpikir. Dengan akal diciptakanlah teknologi. Teknologi adalah alat bantu mencapai kebajikan maksimal, walaupun mungkin teknologi member akibat yang bertentangan dengan hati nurani. Aliran ini banyak dianut oleh kalangan barat, mereka yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu teknologi). Pandangan ini disebut Liberalisme.

3.      Aliran Gabungan

Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan adalah daasar kebudayaan, yang menentukan benar atau tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani).

Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat, didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme.

Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari keyakinan secara berimbang akan menibulkan pandangan hidup yang disebut sosialisme-religius. Kebajikan yang dikhendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.





F.  LANGKAH- LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK

      Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup ini. Karena hanya dengan memiliki langkah-langkah itulah kita mendapat mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapu langkah-langkah itu sebagai berikut:

1.      Mengenal

Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup.

2.      Mengerti

Mengerti disini maksudnya mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila didalam suatu negara kita harus mengerti apa itu pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bernegara. Begitu juga agama islam kita harus mengerti Al-quran dan bagaimana cara mengatur kehidupan yang baik didunia. Mengerti terhadap pandangan hidup sangat penting. Karena dengan mengerti, ada kecendrungan mengikuti apa yang terdapat dalam pandangan hidup itu.

3.      Menghayati

Menghayati disini maksudnya menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkahnya dengan menganalisa dan bertanya kepada orang yang lebih tau menganai isi pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan begitu kita akan memperoleh kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.

4.      Meyakini

Meyakini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh kepastian sehingga dapat mencapa suatu tujuan hidupnya. Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas terhadap pandangan hidup itu. Adanya sikap menerima secara ikhlas ini maka ada kecendrungan untuk selalu berpedoman kepadanya dalam segala tingkah laku yang dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya.

5.      Mengabdi

Pengabdian merupakan suatu hal yang terpenting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi dapat kita rasakan sendiri dan manfaat itu bias tewujud dimasa masih hidup atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.

Jadi ketika kita sudah mengenal, mengerti, menghayati dan meyakini pandangan hidup ini, maka selayaknya disertai dengan pengabdian. Dan pengabdian ini hendaknya dijadikan pakaian, baik dalam waktu tentram terlebih-lebih bila menghadapi hambatan, tantangan, dan sebagainya.

6.      Mengamankan

Mungkin sudah merupakan sifat manusia bahwa bila sudah mengabadikan diri pada suatu pandangan hidup lalu ada orang lain yang mengganggu atau menyalahkan tentu dia tidak menerima dan bahkan cenderung untuk mengadakan perlawanan. Hal ini karena dalam berpandangan hidup dia telah mengikuti langkah-langkah sebelumnya dan langkah tersebut telah dibuktikan kebenerannya sehingga akibatnya bila ada orang lain mengganggunya maka dia akan mengadakan suatu respon berwujud tindakan atau lainnya.

Prosese mengamankan ini merupakan langkah terakhir. Tidak mungkin atau sedikit kemungkinan bila belum mendalami langkah sebelumnya lalu akan ada proses mengamankan ini. Langkah yang terakhir ini merupakan langkah terberat dan benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.

9. MANUSIA dan TANGGUNG JAWAB

A.    PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB

Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menaggung akibatnya.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan keasadaran akan kewajibannya. Contohnya seorang mahasiswa yang mengerjakan tugas kampusnya sama saja dia sudah memenuhi tanggung jawabnya sebagai mahasiswa begitupun sebaliknya jika dia tidak mengerjakan tugas nya berarti dia dianggap tidak bertanggung jawab.

Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu.

B.     MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB

Manusia itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu:

1.      Tanggung jawab terhadap diri sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri menurut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bias menyelesaikan masalah-masalah kemanusian mengenai dirinya sendiri, karena sifat dasarnya manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi.

2.      Tanggung jawab terhadap keluarga

Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, istri dan anak. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab merupakan kesejahtraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.

3.      Tanggung jawab terhadap masyarakat

Pada hakekatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk social. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat lain agar dapat melangsungkan hidupnya. Wajar apabila segala tingkah laku harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

4.      Tanggung jawab terhadap Bangsa/Negara

Setiap manusia atau Setiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak atau berperilaku terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.
5.      Tanggung jawab terhadap Tuhan

Tuhan menciptakan manusia dibumi bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia memiliki tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawbnya manusia perlu pengorbanan.

C.    PENGABDIAN DAN PENGORBANAN

Wujud tanggung jawab berupa pengabdian dan pengrobanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.

1.      Pengabdian

Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih saying, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila seseorang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan hal itu berarti mengabdi keluarga.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengabdian kepada Tuhan terasa menonjolnya seperti para biarawan dan biarawati yang menyerahkan seluruh hidupnya demi Tuhannya.

2.      Pengorbanan

Pengorbanan berasal dari kata korban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsure keikhlasan yang tidak mengandung pamrih

Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesame teman, sulit dikatakan pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.

Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan berupa jiwanya. Pengorbanan diberikan secara ikhlas tanpa pamrih sedikitpun. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan, sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaa, tenaga, biaya, dan waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar