RANGKUMAN
ILMU BUDAYA DASAR
7.
MANUSIA dan KEADILAN
A.
PENGERTIAN
KEADILAN
Keadilan menurut
Aristoteles adalah kelayakan tindakan manusia. Kelayakan adalah titik tengah
diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua
ujung itu menyangkut dua orang atau benda, bila kedua orang memiliki kesamaan
dalam ukuran yang ditetapkan, maka masing masing orang harus memperoleh benda
atauh hasil yang sama. Sedangkan jika hasilnya tidak sama, dapat dikatakan
pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.
Pendapat tentang
Keadilan juga bermacam-macam yang disampaikan oleh beberapa tokoh. Menurut
Plato Keadilan di proyeksikan pada diri manusia yang dapat mengendalikan diri
menggunakan perasaan dan akal. Sedangkan menurut Socrates keadilan
diproyeksikan pada pemerintahan, jika pemerintahan sudah dapat melaksanakan
tugasnya makakeadilan akan tercipta, karena pemerintahan pimpinan pokok yang
menentukan dinamika masyarakat. KongHuCu berpendapat lain,Keadilan terjadi
apabila anak menjadi anak orangtua sebagai orangtua yang masing-masing
menjalankan kewajibannya, pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu.
Menurut pendapat
yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan
yang seimbang antara hak dan kewajiban atau dengan kata lain keadilan apabila
setiap orang yang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang
memperoleh bagian yang sama. Contoh jika seseorang karyawan menuntut kenaikan
upah tanpa melihat kinerja nya hal cenderung dikatakan memeras.
B.
KEADILAN
SOSIAL
Keadilan Sosial seperti
yang terteera dalam pancasila sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bung Karno
mengusulkan adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara,
prinsip yang dijelaskan adalah “tidak
ada kemiskinan di Indonesia merdeka” dengan kata lain nampak adanya
pembaruan pengertian antara kesejahteraan dan keadilan.
Bung
Hatta dalam penguraiannya mengenai sila ke-5 seperti berikut “keadilan sosial adalah langkah yang
menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur”. Selanjutnya
diuraikan para pemimpin Indonesia yang menyusun UUD 45 percaya cita-cita
keadilan didalam bidang ekonomi mencapai kemakmuran yang merata.
Asas
yang menuju terciptanya keadilan sosial sebagai berikut: 1. Pemerataan
kebutuhan pokok, 2. Pemerataan pendidikan dan pelayanan kesehatan, 3.
Pemerataan pendapatan, 4. Pemerataan kesempatan kerja, 5. Pemerataan kesempatan
berusaha, 6. Pemerataan partisipasi generasi muda,7. Pemerataan pembangunan, 8.
Pemerataan memperoleh keadilan.
C.
BERBAGAI
MACAM KEADILAN
1.
Keadilan
Legal atau Keadilan Moral
Plato
berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari
masyarakat yang menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap
orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya
(The man behind the gun). Pendapat Plato disebut keadilan moral sedangkan menurut
Sunoto menyebutnya keadilan legal.
2.
Keadilan
Distributif
Aristoteles
berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal yang sama diperlakukan
secara sama, yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are
treated equally).
3.
Keadilan
Komutatif
Keadilan
ini bertujuan untuk memilahara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.
D.
Kejujuran
Kejujuran
atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya
apa yang dikatan sesuai dengan kenyatan yang ada. Orang bodoh yang jujur lebih
baik daripada orang pintar yang lancung. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi
oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya kesamaan hak
serta takut akan kesalahan atau dosa.
E.
Kecurangan
Kecurangan
identik dengan ketidak jujuran, kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak
sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan biasanya untuk memperoleh keuntungan
namun tentu dengan cara yang tidak wajar. Kecurangan membuat orang menjadi
tamak dan serakah.
F.
Pemulihan Nama Baik
Nama
baik merupakan tujuan utama orang hidup, setiap orang menjaga agar namanya
tetap baik. Seperti pribahasa lebih baik mati daripada malu ini membuktikan
nama baik itu mahal harganya. Pada hakekatnya nama baik sesuai dengan kodrat
manusia diantaranya: Manusia adalah makhluk moral dan ada aturan aturan yang
harus d patuhi manusia untuk mewujudkan sebagai pelaku moral tersebut.
G.
Pembalasan
Pembalasan
adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain.
Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan
pembalasan. Bagi orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan pembalasan yang
baik sesuai dengan perbuatannya sedangkan bagi orang-orang yang mengingkari
Tuhan akan diberikan balasan yang setimpal yaitu balasan di Neraka.
8. PANDANGAN HIDUP
A.
PENGERTIAN
PANDANGAN HIDUP
Setiap
manusia mempunyai pandangan hidup dan bersifat kodrati, karena untuk menentukan
masa depan orang itu sendiri. Dengan kata lain pandangan hidup bukan timbul
dalam waktu yang singkat saja. Pandangan hidup banyak sekali macam dan
ragamnya, tetapi dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri 3
macam:
1. Pandangan
hidup berasal dari agama
2. Pandangan
hidup berasal dari ideologi
3. Pandangan
hidup hasil renungan
B.
CITA-CITA
Cita-cita menurut definisi adalah keinginan, harapan, atau
tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup. tanpa cita-cita,
tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup.
Cita-cita
itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita
yang merupakan bagian atau salah satu unsur dari pandangan hidup manusia, yaitu
sesuatu yang ingin digapai oleh manusia melalui usaha. Sesuatu bisa disebut
dengan cita-cita apabila telah terjadi usaha untuk mewujudkan sesuatu yang
dianggap cita-cita itu.
3.
Faktor yang menentukan dapat atau tidaknya seseorang mencapai cita – citanya
antara lain :
- Manusia itu sendiri
- Kondisi yang dihadapi dalam rangka mencapai cita – cita
tersebut,
- Seberapa tinggi cita – cita yang ingin dicapai.
2.Faktor
kondisi yang mempengaruhi tercapai tidaknya cita – citanya antara lain :
- Faktor yang menguntungkan, dan
- Faktor yang menghambat.
C.
KEBAJIKAN
Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan
moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia
berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral.
Dia adalah seorang individu yang utuh, terdiri atas jiwa dan raga. Dia memiliki
hati yang pada hakikatnya lagi, memihak pada kebenaran dan selalu mengeluarkan
pendapat sendiri tentang pribadinya, perasaannya, cita-citanya, dan hal-hal
lainnya. Dari yang dirasakan manusia tersebut, manusia cenderung lebih memihak
pada kebaikan untuk dirinya sendiri. Inilah yang membuat sebagian manusia
‘terpilah’ menjadi manusia egois, yang seringkali seperti tidak mengenal
kebajikan.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari 3
segi, yaitu :
a)
Manusia sebagai pribadi, yang
menentukan baik-buruknya adalah suara hati.
b)
Manusia sebagai anggota masyarakat
atau makhluk sosial, manusia hidup bermasyarakat, saling membutuhkan, saling
menolong, dan saling menghargai anggota masyarakat
D. USAHA
/ PERJUANGAN
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan
cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian
hidup manusia adalah usaha / perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat
manusia. Tanpa usaha / perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempurna. Apabila
manusia bercita-cita menjadi kaya, ia harus kerja keras.Kerja keras itu dapat
dilakuan dengan otak / ilmu maupun dengan tenaga/ jasmani, atau kedua-duanya.
Para ilmuwan lebih banyak bekerja keras dengan otak/ilmunya dari pada dengan
jasmaninya. Sebaliknya para buruh, petani lebih banyak menggunakan jasmani dari
pada otaknya.
Para tukang dan para ahli lebih banyak menggunakan
kedua-duanya otak dan jasmani dari pada salah satunya. Para politikus lebih
banyak kerja otak dari pada jasmani, sebaliknya prajurit lebih banyak kerja
jasmani dari pada otak. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan
harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia miskin,
melarat, dan berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya sendiri.karena itu
tidak boleh bermalas-malas, bersatai-santai dalam hidup ini. Santai dan
istirahat ada waktunya dan manusia mengatur waktunya itu. Dalam agamapun
diperintahkan untuk kerja keras, sebagaimana hadist yang diucapkan Nabi Besar
Muhammad S.A.W yang ditunjuk kepada para pengikutnya “Bekerjalah kamu
seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu
akan mati”.
E. KEYAKINAN
/ KEPERCAYAAN
Keyakinan
adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan
menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran.
Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak
selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada
suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya,
belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru.
Menurut Prof.Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat, yaitu aliran
naturalisme, aliran intelektualisme dan aliran gabungan.
1. Aliran Naturalisme
Hidup
manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi.
Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Bagi yang tidak percaya akan
Tuhan, natur adalah yang tertinggi. Manusia sebagai makhluk tidak mampu
menguasai alam ini, karena manusia itu lemah. Manusia hanya dapat
berusaha/berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Karena itu manusia mengabdi
pada Tuhan berdasarkan ajaran ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama itu ada
dua macam yaitu:
a.
Ajaran agama dogmatis, yang disampaikan
oleh Tuhan dan Nabi-nabi. Ajaran yang dogmatis bersifat mutlak.
b.
Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama,
yaitu sebagai hasil pemikiran manusia sifatnya relatif (terbatas).
2. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini
adalah logika/akal. Dengan akal manusia berpikir. Dengan akal diciptakanlah
teknologi. Teknologi adalah alat bantu mencapai kebajikan maksimal, walaupun
mungkin teknologi member akibat yang bertentangan dengan hati nurani. Aliran
ini banyak dianut oleh kalangan barat, mereka yakin bahwa kebajikan hanya dapat
diperoleh dengan akal (ilmu teknologi). Pandangan ini disebut Liberalisme.
3. Aliran Gabungan
Dasar aliran ini
adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal
dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan adalah
daasar kebudayaan, yang menentukan benar atau tidaknya sesuatu. Segala sesuatu
dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati
nurani).
Apabila aliran
ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua kemungkinan
pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat, didasarkan pada logika
berpikir, sedangkan hati nurani dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui
adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada
logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat),
pandangan hidup ini disebut sosialisme.
Apabila dasar
keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari
keyakinan secara berimbang akan menibulkan pandangan hidup yang disebut
sosialisme-religius. Kebajikan yang dikhendaki adalah kebajikan menurut logika
berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia
Tuhan.
F. LANGKAH- LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK
Manusia
pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita
memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Akan
tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah berpandangan
hidup ini. Karena hanya dengan memiliki langkah-langkah itulah kita mendapat
mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapu langkah-langkah itu sebagai
berikut:
1. Mengenal
Mengenal
merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap
aktivitas hidupnya yang dalam ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya
kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup.
2. Mengerti
Mengerti disini
maksudnya mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila didalam suatu
negara kita harus mengerti apa itu pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan
bernegara. Begitu juga agama islam kita harus mengerti Al-quran dan bagaimana
cara mengatur kehidupan yang baik didunia. Mengerti terhadap pandangan hidup
sangat penting. Karena dengan mengerti, ada kecendrungan mengikuti apa yang
terdapat dalam pandangan hidup itu.
3. Menghayati
Menghayati
disini maksudnya menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Yaitu
dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu
sendiri. Langkahnya dengan menganalisa dan bertanya kepada orang yang lebih tau
menganai isi pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan begitu kita akan
memperoleh kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.
4. Meyakini
Meyakini
merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh kepastian sehingga dapat mencapa
suatu tujuan hidupnya. Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan
yang ikhlas terhadap pandangan hidup itu. Adanya sikap menerima secara ikhlas
ini maka ada kecendrungan untuk selalu berpedoman kepadanya dalam segala
tingkah laku yang dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya.
5. Mengabdi
Pengabdian
merupakan suatu hal yang terpenting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang
telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain.
Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan
manfaat mengabdi dapat kita rasakan sendiri dan manfaat itu bias tewujud dimasa
masih hidup atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.
Jadi
ketika kita sudah mengenal, mengerti, menghayati dan meyakini pandangan hidup
ini, maka selayaknya disertai dengan pengabdian. Dan pengabdian ini hendaknya
dijadikan pakaian, baik dalam waktu tentram terlebih-lebih bila menghadapi
hambatan, tantangan, dan sebagainya.
6. Mengamankan
Mungkin
sudah merupakan sifat manusia bahwa bila sudah mengabadikan diri pada suatu
pandangan hidup lalu ada orang lain yang mengganggu atau menyalahkan tentu dia
tidak menerima dan bahkan cenderung untuk mengadakan perlawanan. Hal ini karena
dalam berpandangan hidup dia telah mengikuti langkah-langkah sebelumnya dan
langkah tersebut telah dibuktikan kebenerannya sehingga akibatnya bila ada
orang lain mengganggunya maka dia akan mengadakan suatu respon berwujud
tindakan atau lainnya.
Prosese
mengamankan ini merupakan langkah terakhir. Tidak mungkin atau sedikit
kemungkinan bila belum mendalami langkah sebelumnya lalu akan ada proses
mengamankan ini. Langkah yang terakhir ini merupakan langkah terberat dan
benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi
segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.
9.
MANUSIA dan TANGGUNG JAWAB
A. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
Tanggung
jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung
jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung,
memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan
menaggung akibatnya.
Tanggung
jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku yang disengaja maupun yang
tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
keasadaran akan kewajibannya. Contohnya seorang mahasiswa yang mengerjakan
tugas kampusnya sama saja dia sudah memenuhi tanggung jawabnya sebagai
mahasiswa begitupun sebaliknya jika dia tidak mengerjakan tugas nya berarti dia
dianggap tidak bertanggung jawab.
Tanggung
jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia,
bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau
bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu.
Dengan demikian tanggung jawab dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi
pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Tanggung jawab adalah
ciri manusia beradab. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari
akibat baik atau buruk perbuatannya itu.
B. MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
Manusia itu
berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk
itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan
alam. Dalam usahanya itu manusia menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut
menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat
dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini,
lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu:
1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung
jawab terhadap diri sendiri menurut kesadaran setiap orang untuk memenuhi
kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
Dengan demikian bias menyelesaikan masalah-masalah kemanusian mengenai dirinya
sendiri, karena sifat dasarnya manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia
juga seorang pribadi.
2. Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga
merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, istri dan anak. Tiap
anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini
menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab merupakan kesejahtraan,
keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
3. Tanggung jawab terhadap masyarakat
Pada
hakekatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukannya
sebagai makhluk social. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus
berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia
disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab
seperti anggota masyarakat lain agar dapat melangsungkan hidupnya. Wajar
apabila segala tingkah laku harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
4. Tanggung jawab terhadap Bangsa/Negara
Setiap
manusia atau Setiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir,
berbuat, bertindak atau berperilaku terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran
yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila
perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.
5. Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan
menciptakan manusia dibumi bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk
mengisi kehidupannya manusia memiliki tanggung jawab langsung terhadap Tuhan.
Sehingga tindakan manusia tidak lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang
dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Sebab dengan
mengabaikan perintah-perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab
yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan
untuk memenuhi tanggung jawbnya manusia perlu pengorbanan.
C. PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
Wujud
tanggung jawab berupa pengabdian dan pengrobanan. Pengabdian dan pengorbanan
adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
1. Pengabdian
Pengabdian
adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai
perwujudan kesetiaan, cinta, kasih saying, hormat, atau satu ikatan dan semua
itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa
tanggung jawab. Apabila seseorang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi
kebutuhan hal itu berarti mengabdi keluarga.
Manusia
adalah ciptaan Tuhan, sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada
Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu
merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengabdian
kepada Tuhan terasa menonjolnya seperti para biarawan dan biarawati yang
menyerahkan seluruh hidupnya demi Tuhannya.
2. Pengorbanan
Pengorbanan
berasal dari kata korban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti
pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat
kebaktian itu mengandung unsure keikhlasan yang tidak mengandung pamrih
Perbedaan
antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya
pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesame teman, sulit dikatakan
pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya,
tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.
Pengorbanan
merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda,
pikiran, perasaan, bahkan berupa jiwanya. Pengorbanan diberikan secara ikhlas
tanpa pamrih sedikitpun. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan,
sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya
berupa pikiran, perasaa, tenaga, biaya, dan waktu. Dalam pengabdian selalu
dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar